Saturday, August 10, 2024

Merawat Kelestarian Budaya melalui Indonesia Bertutur 2024

Budaya adalah identitas bangsa dan kekayaan yang sangat berharga. Budaya Indonesia yang merupakan warisan nenek moyang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Oleh karena itu perlu dijaga kelestariannya dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kemendikbudristek berfokus pada upaya merawat, melestarikan, dan menyebarluaskan warisan budaya Indonesia, serta memupuk rasa bangga terhadap kebudayaan Indonesia. Penting untuk memastikan bahwa budaya Indonesia tidak terlupakan oleh masyarakatnya sendiri.

Semangat menjaga kebudayaan Indonesia ini menjadi landasan bagi Kemendikbudristek dalam menyelenggarakan berbagai acara kebudayaan untuk publik. Salah satunya adalah Mega Festival “Indonesia Bertutur 2024” (Intur 2024) yang akan berlangsung di Bali pada Agustus mendatang. Indonesia Bertutur adalah gelaran yang diinisiasi oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, sebagai sarana untuk menjelajahi cagar budaya dan warisan budaya tak benda yang merupakan sumber ilmu pengetahuan dan gagasan yang relevan dengan kehidupan hari ini. 

Festival ini mengusung tema "Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama," yang menekankan pentingnya perpaduan keragaman hayati, keseimbangan alam, dan keberlanjutan budaya. Intur 2024 bertujuan untuk menghidupkan kembali kearifan leluhur dalam kehidupan masa kini. Acara ini juga diharapkan dapat memberikan panduan dalam menghadapi tantangan masa depan. Festival ini tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga mengedepankan budaya berkelanjutan yang inspiratif. Dengan demikian budaya berkelanjutan dapat menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang dapat bertransformasi ke dalam seni kontemporer.

Kemendikbudristek sangat mempedulikan masa depan lingkungan, yang tercermin dalam prinsip-prinsip yang diterapkan pada pelaksanaan Intur 2024. Keberlanjutan hayati menjadi kunci untuk memastikan nilai-nilai kebudayaan tetap lestari dan diberdayakan dengan baik oleh masyarakat. Kombinasi antara kelestarian hayati dan kebudayaan adalah inti dari kekuatan dan kekayaan Indonesia, yang akan memastikan masa depan bangsa yang cerah dan berdaya saing.

Indonesia Bertutur 2024 diselenggarakan di Batubulan, Ubud, dan Nusa Dua, Bali. Festival ini akan menyajikan 120 karya seni pertunjukan, seni rupa, film, hingga seni media. Acara yang melibatkan 900 pelaku seni budaya ini akan berlangsung selama 12 hari, dari tanggal 7 hingga 18 Agustus 2024. Seniman yang terlibat mulai dari yang terkenal dari Bali seperti I Wayan Sudjana Suklu dan I Gede Sukarya, sineas muda Dian Sastrowardoyo, hingga pelaku seni pertunjukan dari Hongkong, Cheuk Cheung. 

Seluruh rangkaian kegiatan Intur 2024 terdiri dari 9 program, yaitu Maha Wasundari (seremoni dan pertunjukan pembukaan), Visaraloka, Kathanaya, Layarambha, Ekayana, Samaya Sastra, Anarta, Kiranamaya, dan Virama. Dalam 9 program tersebut terdapat beberapa sub acar dengan berbagai penampil. Beberapa acara seperti dalam Kathanaya akan menampilkan para tokoh adat dari berbagai tradisi di seluruh Indonesia. Sebagian acara lainnya menyuguhkan karya-karya seni yang di dalamnya memanfaatan teknologi terbaru, misalnya dalam program Visaraloka. Ada pula program Layaramba yang memutar film tari yang sudah dikurasi dari seluruh dunia. Tak hanya seni pertunjukan, kebudayaan sastra pun dapat dinikmati pengunjung di Intur 2024. 

Acara ini diharapkan dapat menjadi sumber edukasi, pengalaman, dan inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tergerak untuk ikut melestarikan warisan seni dan budaya di seluruh Nusantara. Oleh karena itu Indonesia Bertutur 2024 terbuka bagi masyarakat umum tanpa memungut biaya. Masyarakat dapat mendaftar melalui laman berikut: https://indonesiabertutur.kemdikbud.go.id/register 

Sumber: https://indonesiabertutur.kemdikbud.go.id




Friday, July 12, 2024

Transformasi Diri Setelah Menjadi Fasilitator Ibu Penggerak

Tak pernah saya sangka akan menjadi ibu yang aktif kembali ke masyarakat setelah melahirkan 4 anak. Tadinya saya ibu rumah tangga biasa yang hanya sibuk mengurus keluarga. Urusan sekolah pun sebatas menjadi pengantar dan penjemput anak-anak dan menemani mereka belajar. Dulu saya adalah ibu yang memastikan tugas sekolah mereka selesai dan mereka paham apa yang dipelajari. 

Hingga suatu hari di bulan September 2022 saya mengenal Sidina Community, mengikuti Pelatihan Ibu Penggerak Batch IX. Dari situ pola pikir saya terhadap pendidikan anak-anak mulai berubah. Seperti pendidikan Indonesia yang bertransformasi melalui Kurikulum Merdeka, pemikiran saya pun mulai bertransformasi. Pendidikan seharusnya seperti filosofi Ki Hadjar Dewantara: berpusat pada anak. Orang tua, seperti guru, menjadi fasilitator bagi proses belajar anak-anak, bukan mendikte mereka. 

Profil Pelajar Pancasila yang menjadi karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, juga kami coba kuatkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, saat anak menumpahkan minuman, saya tidak langsung memberi instruksi, namun bertanya pada si anak, “Menurutmu, apa yang perlu dilakukan?” Tindakan seperti ini diharapkan dapat melatih anak-anak untuk bernalar kritis, seperti salah satu dimensi Profil Pelajar Pancasila. 

November 2022, setelah lulus seleksi, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Training of Trainer (ToT) Fasilitator Ibu Penggerak Sidina Community. Inilah gerbang pembuka bagi saya untuk naik kelas. Dengan sukarela menjadi Fasilitator Ibu Penggerak, saya turut andil dalam gerakan Merdeka Belajar. Fasilitator Ibu Penggerak mendapat amanah untuk melakukan sosialisasi Kurikulum Merdeka dan program-program Kemdikbud RI dengan sudut pandang sebagai orang tua. Misalnya, sosialisasi di sekolah anak-anak saya dan di sekolah-sekolah sekitar tempat tinggal mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.





Menjadi Fasilitator Ibu Penggerak artinya saya juga semakin peduli pada kegiatan di sekolah anak-anak, misalnya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Di TK si bungsu, saya bahkan menjadi guru tamu dalam kegiatan memasak gethuk untuk mengenalkan kuliner daerah lain. Dengan membuat gethuk, anak-anak juga melatih motorik halus, belajar takaran dan kemampuan fondasi lainnya yang diperlukan dalam masa transisi PAUD ke SD. 

Karena bersifat sukarela, sosialisasi yang saya lakukan sebagai Fasilitator Ibu Penggerak bukan menjalankan perintah atasan. Inisiatif saya diperlukan, termasuk dengan memperkenalkan diri kepada sekolah-sekolah dan menawarkan materi apa yang bisa saya sosialisasikan. Ada beberapa kepala sekolah yang menolak dengan dalih padatnya kegiatan, namun ada juga juga yang menyambut baik. Sekolah yang membuka pintu bagi saya biasanya juga melihat adanya keselarasan dengan program yang sekolah adakan. 

Untuk membantu memperkenalkan diri kepada masyarakat mengenai peran saya sebagai Fasilitator Ibu Penggerak, saya pun mengunggah dokumentasi kegiatan sosialisasi ke media sosial khususnya instagram. Saya juga membuat konten-konten berupa carousel dan reels untuk menjelaskan Kurikulum Merdeka. Dengan demikian, saya berharap teman-teman juga dapat mengetahui bahwa Kurikulum Merdeka mengajak para orang tua untuk berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan Indonesia.  

Bergabung di Sidina Community sebagai Fasilitator Ibu Penggerak memperluas jejaring saya khususnya di kalangan sesama ibu. Bukan sembarang ibu, namun ibu-ibu pembelajar sepanjang hayat dan saling menginspirasi. Apalagi di Sidina Community banyak sekali webinar yang dapat diikuti dengan beraneka tema, tak hanya di bidang pendidikan. Ibarat bergaul dengan penjual parfum yang tertular wangi, saya pun tertular budaya senang belajar.  


Kiat Menulis Feature

            Pada pelatihan “Peningkatan Kapasitas Penulisan” awal Juli lalu, peserta dibekali ilmu “Menulis Feature”. Kami belajar bersama ibu Budiana Indrastuti, Kepala UKK UI Publishing yang tak perlu diragukan jam terbangnya dalam kepenulisan. Beliau mengawali sesi dengan bercerita pengalaman beliau di bidang tulis-menulis, khususnya non fiksi. Dari cerita-cerita tersebut, beliau menggiring pada 1 pertanyaan penting yang perlu kita jawab terlebih dahulu sebelum kita mulai menulis, yaitu: Menulis untuk Apa? 

            Ada banyak kemungkinan alasan mengapa kita perlu menulis. Bagi wartawan misalnya, menulis memang tuntutan pekerjaan. Namun bagi orang tua seperti saya, menulis bisa jadi dalam rangka dokumentasi tumbuh kembang anak, berbagi pengalaman sebagai orang tua yang barangkali bisa menjadi kenangan bagi sang anak dan beragam alasan lainnya. Setelah menemukan alasan terbesar, biasanya penulis akan terus memiliki ‘bahan bakar’ untuk mencapai tujuan yang lebih jelas. 



Menulis adalah bagian dari proses komunikasi, sehingga interaksi dengan pembaca sangat penting. Untuk menarik pembaca, apalagi ketika harus bersaing dengan ribuan tulisan lain, penting untuk fokus pada cara kita mengkomunikasikan ide kita dengan jelas dan menarik. Seperti yang disampaikan bu Budiana, tantangan penulis adalah menghasilkan tulisan yang dapat memikat satu dari seribu pembaca potensial. Kita perlu berlatih komunikasi yang lebih lengkap dan tepat, termasuk ketika menulis apapun, tanpa singkatan yang membingungkan. Hal ini penting untuk memastikan pesan kita tersampaikan dengan baik.

Feature adalah karangan khas yang merupakan perpaduan opini sang penulis disertai fakta pendukung. Judul tulisan memainkan peran penting dalam menarik perhatian pembaca. Perannya sangat besar untuk memikat orang sebelum mereka membaca isi tulisan. Hal ini mengingatkan kita bahwa menulis bukan hanya tentang isi, tetapi juga bagaimana kita mengemasnya untuk menarik perhatian. Judul sebagai hook yang mampu menangkap calon pembaca: tidak panjang, relevan dengan pembaca, menarik, tidak dibuat-buat dan tentu saja konsisten dengan tujuan tulisan. 

Saat menulis, kita harus tetap fokus pada pokok pembahasan tanpa bertele-tele. Pesan kita harus jelas dan langsung, mengikuti prinsip 5 W + 1 H untuk memastikan semua aspek yang relevan tercakup. Hal ini akan membantu kita mempertahankan minat pembaca dari awal hingga akhir, sehingga mereka tidak berpaling ke bacaan lain. Yang dimaksud 5 W + 1 H yaitu: What (apa), When (kapan), Where (di mana), Who (siapa), Why (mengapa) dan How (bagaimana). Keenam komponen ini tidak harus disajikan urut dalam sebuah tulisan tapi semuanya harus ada. 

Lalu bagaimana mulai menulis dengan mudah? Bu Budiana memberi trik penting, yaitu Copy The Master. Tidak jauh berbeda dengan teknik ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Caranya, kita bisa pilih salah satu artikel dari penulis yang kita anggap baik reputasinya. Dari tulisan tersebut kita adaptasi urutan penyampaian 5 W + 1 H. Bukan sekadar menyalin tulisan dan memodifikasi, namun benar-benar menulis dengan ide kita sendiri. Misal paragraf pertama artikel yang ditiru menulis what, peristiwa A yang sedang dibicarakan, kita juga menulis kejadian B yang benar-benar berbeda. Paragraf kedua membicarakan how, bagaimana peristiwa A itu terjadi, kita juga menuliskan kronologi kejadian B dengan gaya penulisan kita sendiri. 

Sejujurnya, untuk teknik 5 W + 1 H bukan pengetahuan baru bagi saya. Yang benar-benar menginspirasi, khususnya bagi saya yang baru kembali ke dunia kepenulisan lagi, adalah insight mengenai Copy The Master. Referensi belajarnya bisa sangat banyaaaak sekali. Tinggal bagaimana kita sering berlatih supaya semakin luwes dalam mengcopy tentu dengan ide dan gaya penulisan kita sendiri. Tertarik untuk mencoba juga?

x

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penulisan 3-5 Juli 2024

      

             Awalnya sempat ragu saat mendaftar seleksi karena bertahun-tahun blog saya hibernasi. Pengalaman penulisan saya pun didominasi genre fiksi. Untungnya waktu itu saya nekat mendaftar dengan melampirkan pengalaman saya yang masih sangat sedikit. Alhamdulilllaah lagi-lagi saya mendapat kesempatan belajar lagi melalui Sidina Community. Kali ini saya terpilih mewakili Sidina Community dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penulisan yang diselenggarakan Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud RI pada 3-5 Juli 2024. Pelatihan yang digelar di Hotel Santika Slipi, Jakarta, tak hanya mempertemukan saya dengan perwakilan pengurus dan fasilitator Sidina Community yang terpilih lainnya, tetapi juga para delegasi komunitas pendukung Merdeka Belajar lainnya, yaitu Kami Pengajar, Pemuda Pelajar Merdeka, Guru Konten Kreator, Ibu Pembelajar Indonesia, Moma Kece Community, Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN). 




         Pelatihan ini mengingatkan saya kembali pentingnya kemampuan menulis, khususnya bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Seperti yang disampaikan Bapak Anang Ristanto, Plh. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbudristek saat membuka pelatihan ini, bahwa menulis dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif. Dalam konteks pendidikan, menulis memiliki peran yang strategis karena menulis menginspirasi dan mengedukasi. Beliau berpesan, komunitas pembelajar seperti kami memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan berinovasi. 

Setelah mengikuti pelatihan ini, komunitas mitra Kemdikbud RI seperti kami diharapkan nantinya dapat mensosialisasikan program-program Merdeka Belajar lebih masif lagi. Pertemuan seperti ini semoga juga menghasilkan kolaborasi antar komunitas komunitas, jejaring dan koneksi yang kuat untuk saling mendukung dengan para pembawa kepentingan di bidang pendidikan di seluruh Indonesia.

Selanjutnya acara dibuka oleh Ibu Ainun Chomsun, Tenaga Ahli Staf Khusus Mendikbudristek Bidang Komunikasi dan Media. Beliau mengingatkan bahwa Merdeka Belajar tetap menjadi gerakan kita bersama bukan hanya sebuah kebijakan dari Kementerian. Kita semua sebagai orang tua, guru dan murid (mahasiswa) sebagai pihak yang terdampak langsung dari Merdeka Belajar diharapkan bisa berkolaborasi bersama. 

Zaman yang selalu maju ke depan, tak pernah mundur ke belakang, menuntut kita untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Sebagai orang tua dan guru, didukung oleh Kemdikbud RI, tugasnya adalah memfasilitasi dan menyiapkan anak-anak Indonesia agar bisa menghadapi masa depan ketika nanti mereka harus mereka bertarung dalam kehidupan. Kita pun harus punya wawasan yang lebih luas sebagai pemangku kepentingan. Dengan adanya Kurikulum Merdeka, tujuan pendidikan adalah pendidikan yang aman dan menyenangkan, pendidikan yang berpusat kepada murid, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. 

Pelatihan ini membekali peserta dengan 3 pokok bahasan materi, yaitu:

1. Menulis Feature, oleh Bu Budiana Indrastuti, Kepala UKK UI Publishing

2. Belajar Storytelling: Memahami dasar-dasar cara bercerita dan pemanfaatannya dalam presentasi dan media sosial, oleh Pak Dwi Santoso dari Kumparan

3. Panduan Optimalisasi Website, oleh Mas Radius Aryanto, CEO PT Ruang Henti Digital


            Untuk ulasan selengkapnya untuk tiap sesi, silakan klik tiap nomor di atas ya 😁

Sunday, June 23, 2024

Penerapan Paradigma Kurikulum Merdeka dalam Pendidikan Anak


Saat terima rapor semester lalu, wali kelas Pandu (kelas 2 SD) bercerita bahwa Pandu di kelas beberapa kali berkecil hati karena melihat pencapaian temannya dalam mengerjakan buku kumpulan soal matematika. Padahal sebetulnya Pandu juga melebihi pencapaian teman-temannya yang lain. Oleh karena itu sang guru memberi saran kepada kami, supaya Pandu lebih fokus ke kemampuan dan potensi di bidangnya sendiri, yaitu seni rupa seperti pengamatan beliau.

Saya jadi teringat, sejak bergabung di Sidina Community saya jadi mendalami Kurikulum Merdeka yang mendorong anak-anak Indonesia untuk belajar sesuai minat dan bakatnya juga. Menurut kami pun Pandu juga cukup kuat kemampuan visualnya bahkan bangun ruang 3 dimensi seperti lego. Wali kelas Pandu menyarankan agar Pandu sesekali ikut lomba agar dia bisa merasakan pencapaian di bidang yang ia tekuni karena pilihan sendiri. 


Jadi Mei lalu kami menawarkan Pandu untuk mengikuti lomba robotik beregu dan ternyata dia sangat antusias. Dia dibimbing oleh guru ekstrakurikuler untuk menyiapkan timnya untuk cabang "Merakit Cepat". Bersama rekan satu timnya, Pandu giat berlatih saat kegiatan ekstrakurikuler robotika yang tak pernah ia lewatkan. 

Pada pelaksanaan lomba, meski Pandu tidak mendapat posisi 6 besar tapi dia senang sekali karena berada di urutan ke-7 dari puluhan peserta. Dengan pencapaian tersebut kepercayaan dirinya meningkat karena sudah berprestasi di bidang yang ia pilih dan tekuni sendiri. Meski demikian, ada catatan penting juga bagi Pandu untuk peningkatan dalam berlatih robotika beregu, yaitu kerja sama dan pembagian tugas yang sinergis agar robot bisa lebih cepat disusun. Semoga pengalaman berharga ini bisa menjadi bekal bagi Pandu untuk belajar lagi di kemudian hari. 

Sunday, July 24, 2016

Belajar Mendengarkan

Alhamdulillaaah, mulai tahun ajaran ini kepala sekolahnya anak-anak mengadakan kelas parenting untuk orang tua murid dengan mengundang kang Harry, dosen Psikologi UnPad. Setiap pertemuan mengangkat tema berbeda. Yang seru dalam acara ini kang Harry tidak monoton berada di depan sebagai pembicara tapi mengajak para peserta untuk berpartisipasi. Berikut ini rangkuman kelas hari ini: 

Notulensi Sesi Parenting
Hari, tanggal: Minggu, 24 Juli 2016
Tema: Mendengar dan Bertanya
Pembicara: kang Harry

-          - Beberapa masalah pada anak biasanya yang menjadi sumber masalahnya adalah orang tua jadi belajar mengerti perlu dimulai dari belajar memahami pasangan hidup, kemudian memahami anak-anak.
-         -  Kelas dimulai dengan pembagian peserta menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan pertanyaan berikut:
Berdasarkan pengalaman sehari-hari, perilaku apa yang ditampilkan orang lain yg menunjukkan bahwa orang tsb memahami saya dan apa yang dilakukannya saat tidak memahami saya? Dari hasil diskusi kelompok, muncul indikator-indikator berikut ini:
Mengerti
Tidak mengerti
Kontak mata
Cuek
Kooperatif
Fokus pada diri sendiri
Mau diajak bekerjasama
Berkomentar negative
Mengangguk-angguk
Marah/berteriak
Mendengarkan dengan seksama
Devensife/menghindari diskusi
Cepat tanggap
Melamun
Peka terhadap perilaku orang lain & lingkungan
Ikut bicara
Ada feedback
Enggan melaksanakan yg diperintahkan
Memberi saran
Tidak ada kontak mata
Bertanya lebih dalam
Tidak merespon
Memeluk (pada saat dan cara yg tepat)
Tidak member solusi atau ide
Berusaha menyenangkan hati
Memaksakan kehendak
Berusaha menenangkan
Fokus pada diri sendiri
Bertanya lebih lanjut
Bertanya terus -> bisa jadi enggan mengerti, memang tidak mampu mengerti (ada masalah memori), atau yang berbicara kurang mampu menjelaskan  
Tersenyum tulus: tidak diformat, spontan,
Saat orang lain butuh didengarkan, kita malah minta didengarkan balik.
Contoh: “aku jatuh dari tangga”
dikomentarin: “ah, kayak gitu aja diceritain”

Saat orang lain bercerita, kita malah menyeramahi -> ini menunjukkan ceramahnya lebih berharga dibandingkan mendengarkan
(riset kang Harry: saat remaja Bandung ngga mau menjadikan ortu sebagai tempat curhat karena saat curhat ke ortu tapi malah diceramahin)

Memotong pembicaraan

Selective listening: mendengarkan hanya yang ingin didengarkan

- Menurut kang Harry, 3 fase yang dapat dilakukan untuk memahami orang lain:
1. Attending: hadir sepenuhnya di sini untuk mendengarkanmu
Bisa ditunjukkan dengan perilaku verbal (“ooo, oya?, hmmm”) dan non verbal (tersenyum, open gesture, menghadap yang bersangkutan. Kontak mata hanya perlu dipelihara, tidak disarankan untuk dilakukan terus menerus. Tapi ini sangat tergantung pada nilai yg dianut. Hanya butuh 60-80% kontak mata. Lebih dari 80% adalah pertanda ada salah satu yang ingin mendominasi percakapan tersebut, atau romantic relationship.
2. Touch: sentuhan, pelukan, menyetuh punggung tangan.
3. Nod: anggukan

Proses pemahaman: Attending -> interpreting -> responding

Responding terdiri dari:
-          - Konfirmasi. Kadang mitra bicara kita kurang jelas dalam bicara (contoh: taruh di sana, yang kemarin itu gimana?) oleh karena itu penting dilakukan konfirmasi.
-          - Refleksi: menyampaikan respon berupa hasil pemahaman terhadap pesan yg disampaikan.

-       Catatan penting: 
-          - Ketika seseorang sedang butuh diskusi dan dijawab dengan “terserah” itu menyebalkan.  
-          - Kadang orang hanya perlu didengarkan dan meluapkan emosinya, sehingga ia hanya perlu ditemani sambil diam.
-         -  Kesalahpahaman dalam memahami orang lain bisa jadi disebabkan oleh kegagalan mendengarkan dengan baik atau kesalahan memahami pertanyaan.
Contoh: Mengapa Dina makan lemper? -> dikira “Mengapa dinamakan lemper”
akibat: responnya salah
Begitu salah paham, hindari untuk saling menyalahkan. 
-        -  Mengerti dan menyetujui itu 2 hal yg berbeda. Mengerti tidak harus menyetujui. Yang penting mengerti dulu, setelah itu boleh menyetujui atau tidak asalkan dilandasi oleh pengertian. Misalnya: psikolog memahami pasien ingin bunuh diri, tapi tidak setuju atas (rencana) tindakan tersebut.
        
        Tips: 
1 1. Dalam berusaha mengerti, tundalah penilaian (judgement). Karena hambatan utk memahami orang lain adalah evaluasi dini. Caranya: kritis dulu pada diri sendiri, sadari bahwa sedang (akan) menilai. Kembangkan hipotesa: apakah butuh perhatian? Menguji konsistensi kita? 
   2.  Jika ada yg ngajakin ngomong saat Anda lagi capek: AMBIL JEDA.
   3. Pada saat-saat tertentu, diam mendengarkan lebih berharga dibanding nasehat atau ceramah kita.
   4. Nasehat atau ceramah itu seperti obat: caranya harus tepat, waktunya harus tepat, dosisnya harus pas, tidak boleh kadaluarsa.
   5. Vitamin manusia: pengertian dan penghargaan. 
         
       Tanggapan penghambat percakapan:
Orang lain akan merasa TIDAK DIMENGERTI ketika Anda:
-          - Mengalihkan pembicaraan, menganggap mudah, menyepelekan
-          - Memaksakan pendapat
-          - Mengancam, menakut-nakuti
-          - Menceramahi, memberikan khotbah
-          - Menghakimi, menyalahkan
-          - Mencemooh, membuat malu
-          - Menebak-nebak, sok tahu


Wednesday, April 1, 2015

Melahirkan Bayi Sungsang dengan Tenang

Setelah melahirkan Bimo, anak kedua saya, seorang teman bertanya “jadi kali ini persalinanmu lebih ramah jiwa?” Memang tak mudah menjawab pertanyaannya, tapi bisa diberi Allah kesempatan melahirkan bayi sungsang melalui persalinan normal dan spontan memang bukan hasil yang instan. Setelah diawali dengan minggu-minggu pertama pergolakan batin untuk menerima kehamilan yang tak direncana, akhirnya saya memutuskan untuk bahagia meski sesekali saya juga khawatir akan kerepotan mengurusi 2 balita kerap datang menggoda.

Berbeda dengan kehamilan pertama dulu yang tiap bulan saya ingin lihat bayi saya melalui USG, pada kehamilan kedua saya hanya datang ke dokter untuk USG sekali tiap trimester. Saya lebih banyak menemui bidan untuk periksa kandungan. Saat hamil Almira dulu tiap saya kelelahan, saya mengalami flek-flek. Alhamdulillah saat hamil Bimo, meski saya mengasuh Almira yang super aktif ke sana ke mari kandungan saya baik-baik saja. Bahkan saat saya terpeleset jatuh dari tangga tak ada flek darah yang keluar.

Tantangan yang saya hadapi selama kehamilan kedua justru dalam mengelola emosi saya sendiri. Almira yang sedang memasuki masa “terrible two” sering sekali tantrum: menangis keras tanpa sebab yang jelas, dengan durasi bisa lebih dari satu jam. Emosi saya ikut naik turun, bahkan saya kerap ikut menangis. Hingga suatu hari saya tak sengaja membaca retweetmas Reza Gunawan dari Cheri Huber yang menyebut “back to the breath”.Insight  itu saya coba praktekkan tiap kali emosi memuncak dan malah saya anggap sebagai latihan rileksasi. Kalau dulu saat hamil Almira begitu mudahnya saya meluangkan waktu untuk ikut kelas senam hamil danhypnobirthing, saat hamil Bimo saya tak mungkin menitipkan Almira di rumah dengan orang lain apalagi saat-saat tantrumnya mudah sekali kambuh. Sangat langka sekali kesempatan yang bisa saya ciptakan untuk menyepi, hening sejenak untuk rileksasi, apalagi sampai mendengarkan audio panduan rileksasi hypnobirthing. Kenyataannya baru beberapa detik saja saya sudah tidur karena kelelahan tanpa sempat menanamkan sugesti.

Dengan tak adanya waktu dan kesempatan untuk mengikuti kelas pelatihan apa pun karena tak mudah meninggalkan Almira di rumah, saya juga memutuskan untuk tak boleh tergantung pada kelas atau pelatih untuk belajar rileks, tenang dan fokus. Saya harus melatih diri saya sendiri untuk fokus pada napas saya, kekuatan emosi saya, kapan saja, bahkan saat Almira tantrum dan ketidaknyamanan kandungan sedang mencapai puncaknya.
Saya akui saya merasa sangat obsesif pada persalinan yang pertama. Dengan beberapa birth plan yang akhirnya tak terwujud, saya merasa kecewa. Belajar dari situ, akhirnya saya memutuskan untuk tak membuat syarat “saya hanya akan tenang dan merasa nyaman jika saya melahirkan di A, dengan dibantu oleh B dengan cara C “. Alfabet punya 26 huruf, jadi jika rencana A gagal masih ada 25 huruf lainnya. Saya belajar untuk berdamai dengan rencana-rencana saya sendiri. Jadi beberapa birth plan yang sudah saya buat, saya coret sendiri satu per satu.

Rencana A: Melahirkan di sebuah klinik pro gentle birth di Bandung. Saya coret.  Karena saat hari perkiraan lahir (HPL) kemungkinan besar suami saya sedang berada di luar negeri, maka akhirnya saya dititipkan ke rumah orang tua saya di Jogja.

Rencana B: Melahirkan di rumah orang tua dengan dibantu bidan. Ibu saya tidak setuju. Tak mungkin saya melawan orang tua. Apalagi saya akan butuh pertolongan mereka nantinya saat melahirkan dalam kondisi suami sedang jauh.

Rencana C: Melahirkan di klinik pro gentle birth di Klaten. Saya coret juga rencana yang ini karena kasihan kalau orang tua saya harus bolak-balik Jogja-Klaten padahal saya kemungkinan besar harus menitipkan Almira pada mereka sedangkan ada kemungkinan pula Almira maunya sering-sering ketemu bundanya.

Rencana D: Melahirkan di Rumah Sakit Bersalin (RSB) paling homy di Jogja dan pro ASI eksklusif. Awalnya saya harus melakukan negosiasi dengan suami berhari-hari karena beliau lebih cenderung ingin saya melahirkan di Rumah Sakit Umum (RSU). Alasannya, kalau ada keperluan emergencyperalatannya sudah lebih lengkap. Sedangkan alasan keberatan saya adalah kemungkinan besar Almira akan ikut menginap padahal RSU berisi tak hanya pasien yang melahirkan tapi juga pasien-pasien lain dengan berragam penyakit. Analisis risiko-manfaat kami lakukan dari sudut pandang yang berbeda.

Setelah beberapa minggu akhirnya suami saya luluh juga pada pilihan saya: Rumah sakit bersalin yang (tampak) paling nyaman, tidak terlalu ramai,paling dekat dengan rumah orang tua saya dan di sana berpraktek dr. Anisa, sp.OG, dokter kandungan yang sudah direkomendasikan ibu dan sepupu saya. Konon menurut mereka, dokter senior yang membantu persalinan mereka ini sangat mengutamakan persalinan normal dan tidak melakukan pemeriksaan USG jika memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sayangnya saat pulang ke Jogja usia kandungan saya sudah mendekati HPL. Pada kunjungan pertama ke RSB saya gagal bertemu dr.Anisa karena beliau ke luar kota. Baru pada kunjungan kedua saya bisa bertemu beliau. Karena saya pikir bisa jadi itu pertemuan kami terakhir di ruang praktek sebelum kami bertemu lagi di ruang bersalin, maka saya putuskan untuk melupakan rencana mengenai penundaan tali pusar, burning cord clampdan menolak litotomi. Daripada kesempatan konsultasi tersebut saya gunakan untuk langsung menyampaikan proposal-proposal mengenai birth plan, akhirnya saya building rapport : membangun kedekatan dengan mengajak beliau mengobrol hal-hal yang lebih netral seperti topik mengenai keluarga. Setelah obrolan tersebut saya baru menyampaikan harapan saya agar beliau nantinya membantu untuk bisa melahirkan secara normal jika memang dimungkinkan.

Mungkin karena sudah terlatih untuk bisa fokus dan bernapas rileks kapan saja, maka saat kontraksi datang setelah sholat subuh, saya masih bisa mandi dan memandikan Almira, masih tenang untuk mengudap kurma sebagai tambahan tenaga, minum air putih dan cairan isotonik yang cukup. Kemajuan persalinan saya cukup bagus. Pukul 04.45 saya mulai melihat bercak darah di celana dalam saya, jam 05.00 saya mulai kontraksi, jam 07.00 sesampainya di Rumah Sakit Bersalin ternyata sudah pembukaan 8. Sambil menunggu dokter yang sedang membantu persalinan pasien lain yang lebih urgent, saya masih menikmati pelvic rocking sambil berpegangan tepian ranjang.

Karena sudah pernah melahirkan, jadi saat merasakan ketuban akan pecah, saya panggil bidan untuk menyiapkan alas. Setelah itu di ranjang tindakan, saat VT (periksa dalam) yang kedua bidan yang membantu dokter kaget karena ternyata yang terraba adalah KAKI, bukan kepala. Dokter kandungan tak kalah kaget karena pemeriksaan terakhir seminggu sebelumnya kepala bayi saya sudah masuk panggul. Bahkan VT yang pertama pun dokter belum menyadari posisi kaki bayi yang berada di bawah. Untungnya dengan wajah optimis, dokter saya mengatakan “Insya Allah bisa normal kok karena bayinya kecil. Nanti episiotomi saja.” Kaget memang, karena tak sedikit pun pernah terbersit mengenai kemungkinan melahirkan bayi sungsang. Jadi sama sekali saya belum punya referensi. Tapi karena saat itu sudah pecah ketuban dan pembukaan hampir lengkap, tak mungkin saya mendadakgoogling meski setengah jam sebelumnya masih sempat update status di Facebook “Sudah bukaan delapan”.

Saya tidak anti episiotomi karena sejak awal saya memang sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala intervensi medis jika memang diperlukan. Saya juga memutuskan secara sadar untuk melahirkan dengan posisi terlentang jika memang itu memudahkan dokter dalam mengeluarkan bayi saya, apalagi nanti kakinya dulu yang akan keluar. “Bantu bunda ya Nak. Kita mohon pertolongan pada Allah.” Itu yang saya sampaikan pada bayi saya di dalam perut. Dalam masa-masa penantian pembukaan lengkap, saya memilih terus fokus untuk bernapas rileks. Tiap gelombang kontraksi datang, saya menenangkan diri sendiri sambil mengobrol dengan bayi saya “Ayo cari jalan ya Nak.” Ibu saya yang menemani juga saya minta untuk mengusap punggung agar hormone endorphine makin banyak, dan memijat di titik antara jempol dan telunjuk sebagai induksi alami. Sampai akhirnya pembukaan lengkap dan naluri saya merasa bahwa saya perlu mengejan.

Sebelum membantu mengeluarkan bayi saya, dr. Anisa memimpin kami semua yang ada di ruang bersalin untuk membaca surat Al-Fatihah. Tak semudah melahirkan Almira yang keluar kepala dahulu, untuk melahirkan adiknya yang muncul kaki dahulu saya perlu mengejan beberapa kali lebih banyak dengan tenaga beberapa kali lebih besar. Saat mengejan, sekali waktu saya sempat berteriak. Untung saja bidan mengingatkan untuk tetap tenang agar tenaga bisa dihemat. Kata ibu saya yang menemani saat itu, kaki bayi keluar dahulu satu per satu, dilanjutkan tangannya satu per satu, yang terakhir baru mengeluarkan kepalanya.

Indah sekali saat akhirnya Bimo ditelungkupkan di dada saya. Saat inisiasi menyusui dini, ASI saya pun langsung keluar meski Bimo belum bisa langsung menyusu saat itu juga. Senang sekali saya tak salah pilih RSB yang memberi saya waktu untuk berdua saja dengan bayi saya di ranjang bersalin tanpa memburu-buru untuk pindah ke ruang perawatan. Setelah 3 jam baru Bimo bisa menyusu dengan lancar.

Alhamdulillah berat Bimo saat lahir 3,1 kilogram jadi tak terlalu besar untuk dilahirkan melalui vagina meski posisinya sungsang. Soal diet selama kehamilan saya memang cukup ketat terutama di minggu-minggu terakhir. Karena tak mudah meninggalkan nasi, jadi saya memilih untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula putih agar penambahan berat badan janin tidak cukup drastis. Saya juga memperbanyak konsumsi buah dan sayur mengingat paska persalinan sebelumnya saya mengalami sembelit yang tidak nyaman.             

Setelah 11 bulan berlalu saya masih bersyukur bahwa setelah lahir hingga kini Bimo masih setenang dulu ketika masih di perut saya, tak banyak merepotkan bundanya. Sejak lahir dia juga tak pernah begadang. Bahkan dia bisa tidur sendiri tanpa perlu disusui dan digendong jika perutnya sudah kenyang dengan ASI. Seakan-akan dia mengerti bundanya juga perlu mengurusi kakak Almira.

Kehadiran Bimo membuat saya belajar lagi. Pertama, salah satu proses pemberdayaan diri yang penting adalah belajar pengelolaan emosi yang ternyata masih dan akan terus saya butuhkan bahkan setelah anak-anak lahir. Kedua, saya belajar untuk mengatasi kekhawatiran saya sendiri, belajar menerima situasi dan kondisi. Di saat-saat genting tanpa referensi, Bimo yang ternyata memilih posisi sungsang mengingatkan saya kembali arti berserah diri pada Allah. Manusia berrencana dan berusaha, tapi Allah Maha Berkuasa untuk Memampukan dan Mengijinkan dengan cara-Nya.

(Tulisan ini masuk dalam 10 besar nominasi cerita terfavorit dalam Lomba Menulis tahun 2013 di grup  FB Gentle Birth Untuk Semua)