Dalam pertunjukan stand-up comedy “Mesakke Bangsaku”, Pandji Pragiwaksono serius mengatakan “Bermain adalah saat anak-anak belajar dengan suka rela.” Bermain memang aktivitas yang tak terpisahkan dari dunia anak-anak. Dalam bermain, mereka juga belajar. Sejak bayi, seorang anak sudah mengeksplorasi dunianya dengan cara bermain, misalnya dengan memasukkan jarinya ke dalam mulut dan bermain ci-luk-ba (peek-a-boo) bersama ibunya sambil belajar konsep ada dan tiada.
ANAK-ANAK YANG SIBUK
![]() |
Cuplikan video "Menjadi Seorang Anak Kecil" |
PENTINGNYA BERMAIN
Pesan moral yang
disampaikan video-video di atas hampir sama, bahwa tak semua bisa dipelajari
di sekolah, sehingga anak-anak perlu bermain. Menurut Rinso, dengan bermain anak-anak
mendapat setidaknya empat manfaat utama berikut ini:
1. Mendapat teman dan belajar bergaul
1. Mendapat teman dan belajar bergaul
Dengan bermain, banyak
hal bisa dipelajari. Seperti pada foto di samping, Bimo yang masih batita
bermain jungkir balik sehingga mengetahui bahwa dunia bisa dilihat dari sudut pandang sebaliknya, dengan meniru gerakan Almira,
kakaknya.
3. Belajar sendiri
Dengan bermain, anak-anak belajar caranya belajar. Apa yang mereka dapatkan melalui bermain bukan informasi yang spesifik tetapi juga merangkai perilaku yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah (Sutton-Smith 1997).
3. Belajar sendiri
Almira bermain sambil belajar memarut wortel |
Dengan bermain, anak-anak belajar caranya belajar. Apa yang mereka dapatkan melalui bermain bukan informasi yang spesifik tetapi juga merangkai perilaku yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah (Sutton-Smith 1997).
4. Fungsi tubuh berkembang
Bermain dengan cara menggerakkan tubuh secara aktif bermanfaat agar tubuh anak berkembang dengan sehat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion Centers for Disease Control (CDC) pada 2008, angka kejadian obesitas (kegemukan) pada anak-anak berusia 6 – 11 tahun meningkat lebih dari dua kali lipat pada 20 tahun belakangan ini, hingga 17% di usia ini. CDC menyimpulkan adanya faktor utama yang hilang, yaitu aktivitas fisik tingkat moderat selama setidaknya SATU jam per hari.
Bermain dengan cara menggerakkan tubuh secara aktif bermanfaat agar tubuh anak berkembang dengan sehat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion Centers for Disease Control (CDC) pada 2008, angka kejadian obesitas (kegemukan) pada anak-anak berusia 6 – 11 tahun meningkat lebih dari dua kali lipat pada 20 tahun belakangan ini, hingga 17% di usia ini. CDC menyimpulkan adanya faktor utama yang hilang, yaitu aktivitas fisik tingkat moderat selama setidaknya SATU jam per hari.
Satu lagi manfaat bermain yang tak kalah penting namun tidak ditunjukkan dalam video di atas adalah menjalin kelekatan antara anak dan orang tuanya.
Berbagai upaya kami lakukan agar waktu bermain bagi anak-anak tetap melimpah. Saat kami memutuskan untuk menyekolahkan Almira di usia 3 tahun 3 bulan, 2 faktor paling penting bagi kami adalah: DURASI sekolah yang singkat (jam 8.30 – 11.00) sehingga ia masih punya lebih banyak waktu untuk bermain dengan bebas, dan ketersediaan RUANG TERBUKA HIJAU dengan sarana bermain yang lebih banyak dibanding jika mereka berada di rumah. Hal ini penting agar masa sekolah tak merenggut masa kanak-kanak yang memang perlu diisi dengan wajah “bermain” bukan wajah tertekan karena “belajar”. Agar anak-anak memiliki lebih banyak waktu bermain secara aktif, kami juga membatasi penggunaan perangkat elektronik, misalnya hanya boleh menonton TV di sore hari pada hari libur sekolah dan TV harus sudah mati setelah terdengar adzan Maghrib. Penggunaan smartphone juga sangat dibatasi maksimal 1 jam per hari. Peraturan yang terakhir ini juga berlaku bagi saya, kecuali saat anak-anak sedang tidur :D
Referensi:
Study: CDC's National Center for Chronic Disease Prevention
and Health Promotion. Division of Adolescent and School Health. Childhood
Obesity. 20 October 2008.
Sutton-Smith, Brian. (1997). The Ambiguity of Play. Cambridge , Mass. : Harvard University Press.
Baca juga artikel:
"Wajah Bermain Sebanyak Anak-anak Ingin"
"Bermain dari Sudut Pandang Anak-anak"
Keduanya diikutsertakan dalam #KidsToday yang diadakan www.theurbanmama.com dan @MissResik Rinso Indonesia
Baca juga artikel:
"Wajah Bermain Sebanyak Anak-anak Ingin"
"Bermain dari Sudut Pandang Anak-anak"
Keduanya diikutsertakan dalam #KidsToday yang diadakan www.theurbanmama.com dan @MissResik Rinso Indonesia
Saya dan suami sedang terus menjaga berkomitmen untuk NO TV, kecuali malam hari saat si kecil sudah tidur. Pun begitu dia terbangun, TV langsung dimatikan. Namun untuk penggunaan smartphone+laptop saya akui masih sangat sulit untuk dikurangi penggunaanya hiks..
ReplyDeleteSalah satu cara mengajari yg paling ngga mudah adalah memberi contoh ya mba. Untungnya acara tv favorit saya cuma tayang malem setelah anak2 tidur. Itu pun cuma seminggu sekali
DeleteDone
ReplyDeleteThanks ya mba Candri udah mampir
DeleteMelihat wajah anak sibuk bermain memang berbeda dengan wajah anak yang sibuk menonton tv atau bermain perangkat teknologi... Sebagai orangtua baru kami pun selalu berusaha membuat senyum ceria anak kami melalui dunia bermainnya baik main dg kami atau teman2nya...
ReplyDeleteWajah ceria anak-anak pasti menular ke orang tuanya dan begitu pula sebaliknya ya Mbak.
DeleteGa nyangka ada foto-foto ini. Hehehe...
ReplyDeleteAnak-anak tentu saja berkeinginan untuk terus bermain karena rasa tahunya yang tak terbatas, kecuali saat mereka merasakan kelelahan dan perlu untuk beristirahat. Yang perlu dijaga adalah stamina para orang tua ketika mendampingi mereka sehingga mampu menjadi orang tua yang hebat, warga dunia yang hebat, serta menjadi kontributor yang hebat.
Salam, @MasNovanJogja
Kecuali foto nomer 3 yg kakak lagi masak ya. Itu kan ambil dr hp Ayah :D
DeleteThanks for being such a great Dad ya Yah
Dan permainan yg paling menyenangkan buat anak adalah bermain bersama orangtuanya :)
ReplyDelete*pengalaman pribadi.. Hihi
Thx for sharing ya bun bun
Iyaaaaa....mumpung masih balita.ntar kalo udh gedean dikit maunya main sama temen2nya terus kitanya yg bingung masih pengen nguyel2 :D
Deletesenangnya melihat wajah anak ceria tanpa beban...
ReplyDeletetapi sayang masih banyak orang tua yang terobsesi sehingga anaknya dimasukan les ini les itu, entah itu karena ingin anaknya terlihat lebih atau obsesi orang tua yg tidak terwujud sehingga anaknya yang kelak akan mewujudkan obsesi orang tua.
Apalagi durasi sekolah yang lama dari pagi hingga sore
Kadang2 mungkin lingkungan tempat tinggal ngga memungkinkan utk bergaul dgn teman2 sebaya.jd drpd nganggur di rumah jd dileskan aja.tp klo kayak les2 bimbel gtu memang karna tuntutan dunia pendidikan makin tinggi.ngejar nilai aja jadinya.sedih ya :,(
DeleteKirain cuma anak saya aja yang hobi manjat galon minuman, Mbak, hahaha... Alhamdulillah kalau teman di lingkungan sekitar sih banyak, makanya masih menimbang-nimbang juga mau masuk PAUD atau tidak.
ReplyDeletebikin deg2an ya kalo anak2 udah manjat2 gitu. padahal mereka stay cool aja :D
DeleteIMHO kalo temen main di lingkungan sekitar banyak dan anaknya belum minta sekolah sih biar dia menikmati belajar sama ibunya di rumah aja dulu mba. Kami akhirnya nyekolahin Almira karna dia minta terus. Untungnya nemu sekolah yg judulnya "Rumah Bermain" jadi cuma pindah tempat main aja dua hari sekali :)
enaknya lg kalo lingkungan sekitar ada anak yg umrnya sama,sekolahnya brg jg..hr gini mah susah,jd nya kebanyakan maen dirmh d..but its ok drpd ntn tv teruss #latepost
ReplyDeletechecklistnya jd nambah nih buat keluarga muda yg lg milih hunian :D jd ortu emang harus kreatif ngajak anak2 main ya jadinya
DeleteFaktor lingkungan tmp tinggal jg berpengaruh bagi ank...PR jg buat saya, krna lingkunan rmh yg sangat mengkhawatirkan , dan hrs ekstra pengawasan dr org tua...
ReplyDeleteApalagi berita kriminal di mana2 jd bikin makin takut nglepas anak2 begitu aja ya Bun.moga2 anak kita slalu dlm lindungan Tuhan
Delete